JAKARTA
(voa-islam.com) - LPPI (Lembaga Penelitian dan
Pengkajian Islam) yang dipimpin H. Amin Jamaludin menyusun sebuah buku berjudul
“Mengapa Kita Menolak Syi’ah.” Buku ini berisi tentang kumpulan makalah yang
menyoroti kesesatan Syi’ah yang disampaikan di Aula Masjid Istiqlal tahun
1997, di antara para tokoh Islam yang menyampaikan makalah tersebut adalah Drs.
K.H. Moh. Dawam Anwar, K.H. Irfan Zidniy, M.A, K.H. Thohir Al Kaff, Drs. Nabhan
Husein, K.H. Abdul Latief Muchtar, M.A, DR. M. Hidayat Nur Wahid dan Syu’bah
Asa.
Buku
yang diberi pengantar oleh K.H. Hasan Basri sebagai ketua umum MUI pada waktu
itu merupakan sebuah bukti bahwa kesesatan Syi’ah telah menjadi perhatian para
cendekiawan muslim sejak lama. Selain ketua umum MUI, tokoh-tokoh dari berbagai
ormas Islam seperti NU, Muhammadiyah, Persis, Al Irsyad, DDII dan yang lainnya
ikut memberikan pengantar dalam buku tersebut.
Buku
ini seharusnya menjadi salah satu rujukan bagi kaum muslimin dan para ulama
yang memiliki peran penting di tengah umat Islam, agar kita tak berselisih lagi
mengenai kesesatan Syi’ah dan membendung agresifitas penyebarannya di berbagai
daerah.
Salah
satu tulisan atau makalah menarik yang disajikan dalam buku tersebut adalah
makalah berjudul “Siapa Abdullah bin Saba’” yang menjelaskan sosok Abdullah bin
Saba’ sekaligus mengungkap mengapa Syi’ah berusaha menghapus figur Abdullah bin
Saba’ dari panggung sejarah. Berikut ini adalah kutipan lengkapnya.
Ada
sebuah buku yang berjudul “Abdullah bin Saba’ Benih Perpecahan Ummat” yang
ditulis oleh M. Hashem dan diterbitkan oleh YAPI, Bandar Lampung.
Buku
tersebut telah beredar dan laku keras, pada dasarnya sesungguhnyalah isi buku
tersebut merupakan saduran dari buku yang berjudul “Abdullah bin Saba’” yang
ditulis oleh Murtadha Al Askari, seorang imam Syi’ah yang bermukim di Irak.
Siapakah
Abdullah bin Saba’?
Abdullah
bin Saba’ adalah seorang Yahudi berasal dari Shan’a, Yaman yang datang ke
Madinah kemudian berpura-pura setia kepada Islam pada masa Khilafah Utsman bin
Affan R.A. padahal dialah yang sesungguhnya mempelopori kudeta berdarah dan
melakukan pembunuhan kepada khalifah Utsman bin Affan, dialah juga pencetus
aliran Syi’ah yang kemudian mengkultuskan Ali bin Abi Thalib R.A.
Di
antara isu-isu yang disebarkan oleh Abdullah bin Saba’ untuk memecah belah Umat
Islam pada saat itu antara lain:
- Bahwa Ali bin Abi Thalib R.A telah menerima wasiat sebagai pengganti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. (An Naubakhti , firaq As Syi’ah, hal. 44)
- Bahwa Abu Bakar, Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan R.A. adalah orang-orang zhalim, karena telah merampas hak khilafah Ali R.A. setelah wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Umat Islam saat itu yang membai’at ketiga khilafah tersebut dinyatakan kafir. (An Naubakhti, op cit, hal. 44)
- Bahwa Ali bin Abi Thalib adalah pencipta semua mahluk dan pemberi rezeki. (Ibnu Badran, Tahdzib al Tarikh al Dimasyq, Juz VII, hal. 430)
- Bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan kembali lagi ke dunia sebelum hari kiamat, sebagaimana kepercayaan akan kembalinya Nabi Isa A.S. (Ibnu Badran, op cit, juz VIII, hal. 428)
- Bahwa Ali R.A. tidak mati, melainkan tetap hidup di angkasa. Petir adalah suaranya ketika marah dan kilat adalah cemetinya. (Abd. Al Thahir Ibnu Muhammad Al Baghdadi, Al Firaq Baina Al Firaq, hal. 234)
- Bahwa ruh Al Quds berinkarnasi ke dalam diri para Imam Syi’ah . (Al Bad’u wa Al Tarikh, juz V, hal. 129, th 1996)
- Dan lain-lain
Dapat
ditambahkan pula bahwa Abu Muhammad al Hasan Ibnu Musa An Naubakhti ,
seorang ulama Syi’ah yang terkemuka , di dalam bukunya “Firaq As Syi’ah”
hal. 41-42 mengatakan bahwa Ali R.A. pernah hendak membunuh Abdullah bin Saba’
karena fitnah dan kebohongan yang disebarkan, yakni menganggap Ali sebagai
tuhan dan mengaku dirinya sebagai Nabi, akan tetapi tidak jadi karena tidak ada
yang setuju. Lalu sebagai gantinya Abdullah bin Saba’ dibuang ke Mada’in, ibu
kota Iran di masa itu.
Apa
Persoalannya?
M.
Hashem di dalam bukunya tersebut mencoba untuk menghilangkan figur Abdullah bin
Saba’ dari panggung sejarah, alasannya:
- Seluruh berita tentang Abdullah bin Saba’ yang ditulis dalam buku-buku sejarah baik oleh Ibnu Katsir, Ibnu Atsi, Ahmad Amin, Nicholson, Wehausen maupun yang lainnya, mengutip dari buku sejarah tulisan Ath Thabari.
- Sedangkan Ath Thabari memperoleh berita tentang Abdullah bin Saba’ melalui jalur Saif bin Umar At Tamimi.
- Padahal Saif bin Umar At Tamimi dikenal sebagai perawi yang lemah, suka berdusta dan tidak bisa dipercaya. Demikian menurut ahli-ahli hadits seperti Ibnu Hajar, Ibnu Hibban, Al Hakim, nasa’i dan lain-lain.
Oleh
karena itu kata M. Hasem berita tentang Abdullah bin Saba’ yang ditulis dalam
buku sejarah dengan mengambil sumber buku Ath Thabari tak dapat dipercaya,
karena dalam setiap jalur riwayat (sanad) yang diambil oleh Ath Thabari
terdapat Saif bin Umar At Tamimi. Begitu kata M. Hashem (lihat skema hal. 81).
Hanya dengan alasan itu saja M. Hashem menyimpulkan bahwa yang disebut Abdullah
bin Saba’ adalah tokoh fiktif yang tidak pernah ada.
Buku
tersebut ternyata ada juga pengaruhnya di kalangan intelektual (yang tidak
berpendirian) seperti mendiang Nurcholis Majid (Tempo, 19 Desember 1987, hal.
102) atau yang serupa dengannya dan mereka yang tidak mempunyai pengetahuan
tentang sejarah Islam.
Sebenarnya
yang mengatakan bahwa Abdullah bin Saba’ adalah tokoh fiktif, sudah agak lama
juga muncul. Pendapat tersebut dipelopori oleh orientalis dan dikembangkan oleh
Murtadah Al Askari, seorang tokoh Syi’ah pertengahan abad XX yang berasal dari
Iraq.
Kemudian
diikuti oleh; Dr. Kamal Asy-Syibi, Dr. Ali Al-Wardi (keduanya murid orientalis
dari Iraq). Dr. Thaha Husein, Dr. Muhammad Kamil Husein, Thalib Al Husein, Al
Rifa’i (murid-murid orientalis dari mesir), Muhammad Jawad Al mughniyah, Dr.
Abdullah Fayyah (murid-murid orientalis dari Libanon).
Bagaimana
Sebenarnya?
Saif
bin Umar At Tamimi memang dinyatakan lemah dan tidak dapat dipercaya oleh ulama
hadits, tapi dalam masalah yang ada hubungannya dengan hokum Syari’ah, bukan
dalam bidang sejarah.
Berita
tentang adanya Abdullah bin Saba’ tidak hanya melalui jalur Saif bin Umar At
Tamimi saja. Malah Abu Amr Muhammad ibnu Umar Al izz Al Kasyi (imam hadits dari
kalangan Syi’ah sendiri) meriwayatkan Abdullah bin Saba’ melalui 7 jalur, tanpa
melalui Saif bin Umar At tamimi yang dianggap lemah itu. Yaitu dari:
- Dari Muhammad ibnu Kuluwaihi Al Qummy dari Sa’ad ibnu Abdullah ibnu Abi Khalaf, dari Abdurrahman ibnu Sinan, dari Abdu Ja’far A.S. (Rijal Al Kasyi, hal. 107).
- Dari Muhammad ibnu Kuluwaihi, dari Sa’ad ibnu Abdillah dari Ya’qub ibnu Yazid dan Muhammad ibnu Isa, dari Abu Umair, dari Hisyam Ibnu Salim dari Abu Abdillah A.S. (Rijal Al Kasyi, hal. 107).
- Dari Muhammad ibnu Kuluwaihi, dari Sa’ad ibnu Abdillah dari Ya’qub ibnu Yazid dan Muhammad ibnu Isa dari Ali ibnu Mahzibad, dari Fudhallah ibnu Ayyud Al Azdi, dari Aban ibnu Utsman dari Abu Abdillah A.S. (Rijal Al Kasyi, hal. 107).
- Dari Ya’qub ibnu Yazid, dari Ibnu Abi Umair dan Ahmad ibnu Muhammad ibnu Isa dari Ayahnya dan Husein Ibnu Sa’id, dari Ibnu Abi Umair, dari Hisyam ibnu Salim, dari Abu Hamzah Ats Tsumali, dari Ali ibnu Husein. (Rijal Al Kasyi, hal. 108).
- Dari Sa’ad ibnu Abdillah, dari Muhammad ibnu Khalid Ath Thayalisi, dari Abdurrahman ibnu Abi Najras, dari Ibnu Sinan, dari Abu Abdillah A.S. (Rijal Al Kasyi, hal. 108).
- Dari Muhammad ibnu Al Hasan, dari Muhammad Al Hasan Ash Shafadi, dari Muhammad ibnu Isa, dari Qasim ibnu Yahya, dari kakeknya Al Hasan ibnu Rasyid, dari Abi Bashir, dari Abu Abdillah A.S. (Al Shaduq, Ila Al Syara’i’I, cetakan ke II, hal. 344).
- Dari Sa’ad ibnu Abdillah, dari Muhammad Isa ibnu Ubaid Al Yaqthumi, dari Al Qasim ibnu Yahya, dari kakeknya Al Hasan Ibnu Rasyid, dari Abi Bashir dan Muhammad ibnu Muslim, dari Abi Abdillah A.S. (Ash Shaduq, Al Khisal, cetakan tahun 1389 H, hal. 628).
Demikian
dari kalangan Syi’ah sendiri.
Adapun
dari kalangan Sunni, Al Hafiz Ibnu Hajar Al Asqalani di dalam bukunya “lisan
al mizan” (jilid III, hal. 289-290, cetakan I, tahun 1330 H) meriwayatkan
tentang Abdullah bin Saba’ melalui enam jalur yang juga tanpa melalui jalur
Saif bin Umar At Tamimi. Yaitu:
- Dari Amr ibnu Marzuq, dari Syu’bah, dari Salamah ibnu Kuhail, dari Zaid ibnu Wahab, dari Ali bin Abi Thalib R.A.
- Dari Abu Ya’la Al Muslihi, dari Abu Kuraib, dari Muhammad ibnu Al Hasan Al Aswad, dari Harun ibnu Shahih, dari Al Harits ibnu Abdirrahman, dari Abu Al Jallas, dari Ali bin Abi Thalib. R.A.
- Dari Abu Ishaq al Fazari ibnu Syu’bah, dari Salamah ibnu Kuhail, dari Abu Zara’i’i dari Yazid ibnu Wahab.
- Dari Al Isyari dan Al Alka’i dari Ibrahim, dari Ali. R.A.
- Dari Muhammad ibnu ‘Utsman Abi Syaiban, dari Muhammad ibnu Al Ala’i, dari Abu Bakar Ayyash, dari Mujalid, dari Asy Sya’bi.
- Dari Abu Nu’aim, dari Ummu Musa (Yusuf Al Kandahlawai, hayatus shahabah).
Berdasarkan
13 riwayat yang tidak melalui Saif bin Umar At Tamimi ini (baik dari ulama
Syi’ah maupun ulama Sunni), maka alasan mereka yang hendak menghilangkan figur
Abdullah bin Saba’ dari panggung sejarah tidak dapat dipertahankan.
Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa mereka terlalu ceroboh dalam melakukan
penelitian dan tergesa-gesa dalam mengambil kesimpulan, ataukah memang mereka
mempunyai maksud-maksud tertentu.
Apa
Maksud Mereka?
Apa
sebenarnya maksud yang terkandung pada diri mereka dalam menghilangkan figur
Abdullah bin Saba’ dari panggung sejarah, dapatlah kita analisa.
- Golongan Syi’ah berkeyakinan bahwa Syi’ah telah muncul semenjak zaman Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tetapi kenyataan sejarah tidak dapat kita pungkiri bahwa Abdullah bin Saba’-lah pelopornya. Oleh karena itu dengan menghilangkan figur Abdullah bin Saba’ mereka berharap bisa diterima sebagai salah satu mazhab dalam Islam yang tidak ada kaitannya dengan Yahudi.
- Mendukung gerakan tasykik untuk membingungkan umat Islam dengan cara memutar balikkan fakta sejarah, sehingga umat dialihkan dari apa yang seharusnya mereka kerjakan dan lupa akan kelicikan musuh-musuh Islam.
- Menjauhkan umat Islam dari ulama dan pemimpinnya, serta menghilangkan kepercayaan kepada generasi pertama yaitu generasi sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang seharusny merupakan contoh dan panutan.
- Menempatkan tokoh-tokoh Syi’ah dan apa yang disebut “pembaru” lainnya, setaraf dengan ulama salaf terdahulu.
Lebih
dari itu apa pun yang mereka tuju, yang jelas pemikiran seperti itu telah
dipelopori oleh kaum orientalis. Apakah mereka memang bagian dari kaki tangan
orientalis, ataukah mereka korban tipu daya orientalis? Boleh jadi mereka
adalah generasi baru Abdullah bin Saba’. Mari kita buktikan. (Ahmed Widad)
- See more at:
http://www.voa-islam.com/read/indonesiana/2012/01/06/17302/mengapa-syiah-berusaha-menghilangkan-figur-abdullah-bin-saba/#sthash.Dm7OzT28.dpuf
Tidak ada komentar:
Posting Komentar